Aroma Kenangan: Menelusuri Jejak Kuliner Legendaris di Pasar Lama Putussibau

Begitu kaki melangkah masuk ke Pasar Lama Putussibau, aroma gula merah dan santan langsung menyergap. Di sudut utara, ibu-ibu dengan celemek lusuh masih sibuk menggoreng kue putri mandi yang sama seperti empat puluh tahun silam. Bagi saya, tempat ini seperti laboratorium rasa — tempat saya bertanya-tanya: apa sih yang bikin sebuah jajanan bisa bertahan lintas generasi dan tetap disebut legendaris?
Akar Sejarah di Balik Kelezatan Legendaris
Saya mencoba menelusuri satu per satu: kue apam, lopis ketan, dan serabi. Bahan dasarnya sederhana banget — tepung beras, santan, garam. Tapi rahasianya ada pada fermentasi alami yang dilakukan turun-temurun. Pedagang yang saya temui, Mak Tati, sudah 30 tahun berjualan. Ia cerita bahwa kue apam buatannya nggak pakai ragi instan, tapi starter dari adonan sehari sebelumnya yang dibiarkan mengembang semalaman. “Kuncinya di suhu dan kesabaran,” katanya sambil tersenyum.
Dari sisi budaya, jajanan-jajanan ini bukan sekadar kudapan. Kue apam misalnya, sering muncul dalam acara syukuran dan arisan di masyarakat Melayu Kapuas Hulu. Ada makna sosial di sana — berbagi makanan legendaris berarti menghidupkan memori kolektif. Dalam konteks kuliner Indonesia, keberadaan jajanan tradisional seperti ini sebenarnya bentuk resistensi terhadap modernisasi rasa (baca lebih lanjut di Wikipedia Indonesia tentang masakan tradisional). Saya sendiri heran: di tengah menjamurnya kafe modern dengan roti artisan, lopis ketan sederhana tetap bertahan. Alasannya simpel — harganya murah, rasanya stabil, dan selalu mengikat kenangan masa kecil.
Penjelasan lain ada pada teknik pembuatan. Saya perhatikan bahwa semua jajanan itu nggak pakai pengawet sama sekali. Para pedagang mengandalkan proses pengukusan berulang di pagi hari, sehingga barang yang nggak laku bisa diolah ulang jadi bubur atau digoreng. Efisiensi ekonomi ini bikin mereka nggak perlu mengubah resep warisan. Secara nggak langsung, resistensi terhadap perubahan itu justru yang bikinnya legendaris.
Perjalanan analitis saya berakhir di lapak lopis ketan milik Pak Rahman. Ia masih menumbuk beras ketan dengan alu kayu — bukan alat modern. “Kalau pakai mesin, teksturnya beda,” ujarnya singkat. Saya pun tersadar: kelegendarisan bukan cuma soal rasa, tapi juga konsistensi proses yang dirawat tanpa banyak berubah. Bagi yang penasaran, cobalah mampir ke pasar tradisional di kota Anda. Di sana, dalam secuil kue yang tampak biasa, tersimpan kisah panjang yang patut digali.