Kuliner KulinerTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
food

Aroma Kenangan: Menelusuri Jejak Kuliner Legendaris di Pasar Lama Putussibau

Jelajahi kisah di balik jajanan tradisional legendaris di Pasar Lama Putussibau, dari kue apam hingga lopis ketan. Sebuah analisis rasa yang tak lekang waktu.

25 Jun 2026 · 2 menit baca · oleh Redaksi Kuliner
Aroma Kenangan: Menelusuri Jejak Kuliner Legendaris di Pasar Lama Putussibau

Setiap kali saya melangkah ke Pasar Lama Putussibau, aroma campuran gula merah dan santan langsung menyambut. Di sudut utara, ibu-ibu dengan celemek lusuh masih setia menggoreng kue putri mandi yang sama seperti empat puluh tahun lalu. Bagi saya, tempat ini adalah laboratorium rasa — di situlah saya bertanya-tanya: apa yang membuat sebuah jajanan bisa bertahan lintas generasi dan tetap disebut legendaris?

Akar Sejarah di Balik Kelezatan Legendaris

Saya coba menelusuri satu demi satu: kue apam, lopis ketan, dan serabi. Bahan dasarnya sederhana — tepung beras, santan, garam. Tapi rahasianya ada pada fermentasi alami yang dilakukan secara turun-temurun. Pedagang yang saya wawancarai, Mak Tati, sudah 30 tahun berjualan. Ia bercerita bahwa kue apam buatannya tidak menggunakan ragi instan, melainkan starter dari adonan sehari sebelumnya yang dibiarkan mengembang semalaman. “Kuncinya di suhu dan kesabaran,” katanya sambil tersenyum.

Dari perspektif budaya, jajanan-jajanan ini bukan sekadar kudapan. Kue apam misalnya, kerap muncul dalam acara syukuran dan arisan di masyarakat Melayu Kapuas Hulu. Ada makna sosial di sana — berbagi makanan legendaris berarti menghidupkan memori kolektif. Dalam konteks kuliner Indonesia, keberadaan jajanan tradisional seperti ini sebenarnya bentuk resistensi terhadap modernisasi rasa (baca lebih lanjut di Wikipedia Indonesia tentang masakan tradisional). Saya sendiri merasa heran: di tengah menjamurnya kafe modern dengan roti artisan, lopis ketan sederhana tetap bertahan. Alasannya sederhana — harganya murah, rasanya stabil, dan selalu mengikat kenangan masa kecil Detail teknisnya saya rapikan di kuliner kekinian.

Penjelasan lain ada pada teknik pembuatan. Saya perhatikan bahwa semua jajanan itu tidak menggunakan pengawet sama sekali. Para pedagang mengandalkan proses pengukusan berulang di pagi hari, sehingga barang yang tidak laku bisa diolah ulang menjadi bubur atau digoreng. Efisiensi ekonomi ini membuat mereka tidak perlu mengubah resep warisan. Secara tidak langsung, resistensi terhadap perubahan itu justru yang membuatnya legendaris.

Perjalanan analitis saya berakhir di lapak lopis ketan milik Pak Rahman. Ia masih menumbuk beras ketan dengan alu kayu — bukan alat modern. “Kalau pakai mesin, teksturnya beda,” ujarnya singkat. Saya pun tersadar: kelegendarisan bukan sekadar soal rasa, tapi juga konsistensi proses yang dirawat tanpa banyak berubah. Bagi siapa pun yang penasaran, cobalah mampir ke pasar tradisional di kota Anda. Di sana, dalam secuil kue yang tampak biasa, tersimpan kisah panjang yang patut digali.

Referensi: sumber resmi

Tag: #kuliner legendaris #jajanan tradisional #putussibau #pasar tradisional